Jumat, 14 Juni 2013

[22] Yesi: Apakah… apakah ini sebuah pertanda?




Aku membuka mata dengan perasaan malas yang sangat. Sinar matahari menerobos masuk lewat jendela yang sudah dibuka. Aku menggeliat. Sudah siang rupanya. Kulihat di sekeliling kamar, gak ada siapa-siapa. Tetty dan Ajeng gak kelihatan.
            “Tetty, Ajeeeeeeng…”
Gak ada yang nyahut. Aku bangkit setelah menggeliat lagi sebelumnya. Pagi ini gak tau kenapa kok rasanya males banget mau ngapa-ngapain. Aku menyeret langkah dengan berat dan sedikit sempoyongan. Begitu keluar dari kamar, tujuan pertamaku adalah kamar sebelah. Kamarnya Ayu dan Leli. Kuketok tiga kali daun pintunya. Gak ada sahutan.
“Leliiiiii, Ayuuuuuuuuuuu…”
Gak ada yang nyahut juga. Kudorong daun pintu dihadapanku. Rupanya gak dikunci. Kutilik ke dalam kamar, sepi. Gak ada siapa-siapa.
Mataku seketika menjadi segar dan lenyap sudah kantuk yang bergelayut sedari tadi. Amarahku mulai berkobar. Itu bocah lima kok tega-teganya minggat dari vila tanpa membangunkanku? Bener-bener ngajak perang terbuka ini namanya.
Aku membuka pintu depan dengan sedikit kasar. Menutupnya kembali juga gak kalah kasar. Sebodo amat kalo daun pintunya lepas sih. Siapa suruh menelantarkan aku sendirian di vila?
Tapi, aku harus mencari kemana? Aku baru beberapa hari di dusun ini. Tempat yang aku tau hanya tiga, kalo gak di rumahnya pakdhe, ya di vila. Tempat terakhir, ya di sungai. Ngggggggg… okelah, aku akan cari ke sungai aja dulu. Yang deketan dikit. Siapa tau mereka mancing lagi kayak kemaren.
Aku mulai menyusuri jalan setapak yang masih basah oleh embun. Meski matahari udah lumayan tinggi, rerumputan ini masih juga ada yang basah. Beberapa bagian memang terhalang dari sinar matahari. Pepohonan yang tumbuh di sepanjang jalan menuju ke sungai lumayan melindungi dari panas. Kupikir aku gak perlu tergesa untuk sampai ke sungai. Suasana pagi ini sesungguhnya sangat menyenangkan. Aku bisa menghirup aroma tanah yang basah. Aku juga bisa mendengar desau angin yang menyambangi pucuk-pucuk pohon randu. Beberapa ekor tupai berlomba mencari makanan, berkejaran dan melompat dari satu dahan ke dahan yang lain. Aku menikmati semuanya dengan perasaan yang tentram. Aku menghayal, andai aja temen-temen ada disini sekarang. Pasti asyik. Pasti…
WHAT??? Oh Tuhan, bahkan sekarang ini aku sedang dianiaya oleh temen-temenku sendiri. Aku tetep mikirin mereka. Sementara mereka? Apakah sedang mikirin aku juga? Bagus deh kalo iya. Nah, kalo nggak?
Gak bisa! Ini jelas gak  bisa dibiarkan. Aku harus segera nyampe ke sungai. Kalo misal itu bocah lima gak ada di sungai, aku kan masih punya energi untuk kembali ke rumah pakdhe. Itu aja sih. Intinya, aku gak boleh buang-buang waktu.
Baru aja aku akan menuju tepian sungai, seseorang menepuk pundakku dari belakang. Demi Tuhan, aku kaget. Bahkan aku sempat memekik. Jantungku berdetak cepat. Secepat kilat aku memutar tubuh. Begitu aku membalikkan badan, Ranti nyengir tanpa ngerasa bersalah sedikitpun.
“Kaget ya?”
Ya ampun ini bocah, polos banget sih? Udah jelas-jelas aku mencelat dan jantungku nyaris turun ke dengkul, masih juga ditanya kaget apa enggak? Pake nyengir lagi. Beuhhh…
“Maaf deh. Kupikir kamu udah tau kalo aku ada di balik pohon itu,”
Kuikuti telunjuk Ranti yang mengarah ke pohon beringin besar, tak jauh dari bibir sungai, “Dua kali aja kamu ngagetin aku kayak barusan, kurasa aku bakal pulang ke Pontianak pake mobil ambulans deh. Besoknya aku bakal masuk koran dengan judul berita: seorang gadis yang cantik dan rupawan tewas karena dikagetin sahabatnya sendiri!” Ranti cekakakan setelahnya. Aku tambah manyun.
“Duduk di batu itu yuk,”
Entah mengapa aku kok nurut aja ketika Ranti menyeret lenganku. Aku seperti disihir. Entahlah. Mungkin kata ‘disihir’ kurang pas. Nggggg, terlena. Iya, aku seperti terlena. Aku lupa kalo aku punya misi yang lumayan penting: nyari temen-temenku!
Aku duduk bersebelahan dengan Ranti. Kaki-kaki kami masuk ke air sebatas betis. Dingin sekali rasanya. Beberapa kali arus air menghanyutkan guguran daun-daun. Juga rerantingan yang rapuh. Sementara hari kian menuju siang. Untunglah batu tempat kami duduk ini teduh. Beringin besar di belakang kami menjadi payung yang sejuk.
“Kamu pernah dengar cerita soal anak gadis yang hilang di sekitar vila?”
Ranti membuka percakapan. Aku menanggapinya dengan gelengan kepala. Entahlah, perasaanku saja atau apa. Kurasakan suara Ranti tiba-tiba jadi berat dan terkesan dingin. Suasana yang menyenangkan tadi seketika berubah menjadi serius. Kulirik, kepala Ranti tertunduk. Kakinya tak seperti tadi, tak digerak-gerakkan lagi. Air yang mengalir lantas lewat begitu saja di sela-sela betis kami.
“Memangnya ada cerita seperti itu?”
Ranti mengangguk, “Ada. Sekitar dua tahun yang lalu, seorang gadis dikabarkan hilang di sekitar vila. Sampai sekarang keberadaannya masih misterius. Tak jelas. Jika masih hidup, tak ketahuan rimbanya. Jika sudah mati, tak tau dimana kuburannya.”
Eh? Anu, aku kok ngerasa merinding ya? Kata ‘kuburan’ itu kok rasanya gimanaaaaa gitu. Serem. Menakutkan. Terlebih saat ngucapinnya, Ranti setengah berbisik. Aaaaaaaaah, itu bocah paling pinter deh menciptakan suasana mistis kayak barusan. Lama-lama aku gampar juga nih bocah. Benci bener aku kalo udah gini nih.
“Dan, konon, semenjak hilangnya si gadis, pengunjung vila sering mendapat teror. Ada yang mendengar suara rintih kesakitan. Ada yang diganggu penampakan seorang gadis dengan baju yang compang-camping. Ada yang diberi mimpi. Ada juga yang pernah melihat secara langsung.” Lanjut Ranti, masih dengan misteriusnya.
Mendengar cerita Ranti barusan, aku jadi ingat beberapa kejadian yang aku alami sendiri dan beberapa diantaranya dialami oleh temen-temen. Kalo diambil garis besarnya, semua kejadian itu punya beberapa kemiripan, yaitu terjadinya gak jauh-jauh dari vila. Apakah semua kejadian itu kerjaannya arwah si gadis yang mati penasaran?
“Kira-kira seperti itu!”
SLAPPPP!!!
Tatapan mataku segera terarah ke Ranti yang masih juga mematung, “KAMU BISA MEMBACA PIKIRANKU???”
Ranti mengangguk. “Yesi, semak-semak… semak-semak…”
Usai berkata seperti itu, kulihat tubuh Ranti perlahan berubah. Tiap kali aku mengerjapkan mata, perubahan itu kian nyata. Pakaiannya tak lagi rapi, melainkan compang-camping, koyak disana-sini. Rambutnya acak-acakan. Kulihat ada air yang mengalir dari pelupuk matanya. Tidak, tidak hanya air, tapi juga darah. Kian lama kian deras. Di sudut bibirnya juga berdarah. Matanya bengkak. Kulitnya tiba-tiba menjadi sangat pucat. Bibirnya bergetar, seperti hendak meneriakkan sesuatu. Mulanya mendesis-desis, lalu kian nyaring, kian menjadi erangan yang sangat mengerikan.
Aku mulai dihinggapi rasa takut. Tatapanku kualihkan ke air sungai. Betapa kagetnya aku ketika kudapati air sungai juga berwarna merah. Merah yang mengental. Darah mengalir deras dari kaki Ranti yang masih terendam di air. Ingin kutanyakan kenapa ini bisa terjadi. Tapi, begitu mataku bertemu dengan mata Ranti, terjadi sesuatu yang membuatku mual dan ngeri. Bola mata Ranti lepas dari kelopaknya. Menggantung. Otot-otot matanya menyerabut berhamburan. Meneteskan darah. Bibir Ranti menyeringai. Taring tersembul di sela-sela giginya. Erangan yang tadinya pelan, kini sudah menjadi jeritan yang menyeramkan. Kedua tangannya sudahpun terjulur mengarah ke leherku. Kian lama kian dekat. Kakiku gemetaran. Gak bisa ngapa-ngapain. Oh, ini tidak boleh terjadi. aku gak mau mati di sini. Gak mau. Aku ingin lari tapi rasanya sangat berat. Tak ada yang bisa aku lakukan selain berteriak. Berteriak sekencang-kencangnya. TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKK!!!
PLAK!!!
Pipi kiriku sungguh terasa pedas. Aku membuka mata. Tetty dan Ajeng duduk dan memelototiku. Aku sendiri ngerasa napasku seperti orang kelar maraton seribu tujuh ratus dua puluh delapan kilometer. Sengal. Sesak. Keringat ngalir dari pelipisku. Deras. Terasa dingin setelahnya.
“Kamu barusan mimpi buruk ya?”
Aku ngangguk dua kali. Kepalaku pusing. Aku berusaha mengingat-ingat apa yang barusan terjadi, “Barusan yang gampar aku kamu ya, Tet?” kuraba pipi kiriku. Rasanya masih panas.
Giliran Tetty yang ngangguk dua kali, “Iya. Habisnya, tidur kok teriak-teriak. Kayak orang demo aja!” kelar ngomong gitu, tuh bocah ancang-ancang mau tidur lagi.
“Gila! Niat banget kamu gamparin aku. Sampe pedes gini. Kalo sampe merah awas aja besok.”
Tetty nyengir. Selimut udah nutupin kakinya sebatas dengkul.
“Barusan mimpi apa sih?” giliran Ajeng yang nanya. Sesekali dia sibuk ngucek matanya dan menguap.
Aku ingat kejadian yang barusan aku alami. Tuhan, cuma mimpi rupanya. Syukurlah. “Sekarang jam berapa sih?”
“Kira-kira jam dua malam.” Tetty yang nyahut.
Aku termenung. Pantesan. Gelap banget gini. Lampu minyak itu rasanya gak banyak membantu. “Cerita mimpinya besok aja ya. Ngeri rasanya mau cerita sekarang. Tidur lagi yuk,” ucapku seraya menarik selimut. Tetty dan Ajeng gak banyak komentar.
Baru aja aku hendak merebahkan tubuh, tiba-tiba sesuatu terasa bergetar di bawah bantalku disusul dengan potongan lagu Some One Like You-nya Adelle yang mengalun dengan lembut. Seperti biasa, aku memang senang menaruh Hp di bawah bantal. Jadi kalo ada yang sms atau telpon malem-malem kan ngambilnya gampang. Kayak barusan aja nih contohnya.
“SMS dari siapa?” tanya Tetty seraya nguap.
Aku gusar, “Tau nih. Malem-malem jam segini juga, nekat banget sih? Kayak gak ada hari esok aja. Besok kan bisa.”
Ajeng yang rebah di sebelah kiriku mendadak membalikkan tubuh dan menghadap ke arahku, “Ada-ada saja kamu ini. Di dusunku boro-boro sinyal, lha wong listrik saja ndak ada.”
DEG!!!
Mataku kembali terbelalak. Kantukku hilang. Apa yang dikatakan Ajeng barusan benar adanya. Bahkan seingatku, sejak aku di dusun ini, aku sama sekali gak pernah nyalain Hp. Benda kecil di genggamanku ini selalu dalam keadaan non-aktif. Tapi ini?
“Alarm kali,” Tetty coba menanggapi.
“Gak mungkin. Ngapain juga ku nyalain alarm jam segini? Di dusun ini lagi. Kalo di Pontianak masih mending, jam segini nonton Liga Inggris.”
“Ya udah, buka aja. Siapa tau kamu dapet SMS dari Justin Timberlake.”
Pengen kutabok mulut si Tetty itu. Dalam keadaan tegang gini masih aja sempat becanda. Aku aja udah merinding dari tadi. Tapi soal Justin Timberlake? Sepertinya itu lelucon yang oke.
“Udah, cepetan. Aku nunggu nih,”
Kutatap layar Hp dengan perasaan ngeri. Memang bener, disana tertera ada satu pesan masuk. Takut-takut, kubuka SMS di Hp-ku ini. Pesannya sangat singkat, cuma tiga kata,

Yesi, semak-semak…

Tanpa nama pengirim. Tanpa nomor pengirim. Bahkan di layar Hp-ku tak ada logo dan gambar apa-apa. Kosong. Yang ada hanya tiga kata itu saja!

***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kakanda Redi; Resa dilukis

Kakanda Redi; Resa dilukis
Anak Papito udah gede. Tambah cantik :-*

Kakanda Redi - Dinda Risti - Rhein Reisyaristie

Kakanda Redi - Dinda Risti - Rhein Reisyaristie
Pulang dari Pantai Kinjil, Ketapang

Kakanda Redi; Rhein Reisyaristie

Kakanda Redi; Rhein Reisyaristie
Ada kucing kesayangan Resa nih.

Kakanda Redi; Resa

Kakanda Redi; Resa
Resa di ruang kerja Mr. Obama

Pondok Es Krim RESA Mempawah

Pondok Es Krim RESA Mempawah
Di-launching tanggal 12 Juni 2017

Kakanda Redi: SAYA INDONESIA SAYA PANCASILA

Kakanda Redi: SAYA INDONESIA SAYA PANCASILA
Memperingati Hari Lahir Pancasila 01 Juni 2017

Pondok Es Krim Resa Mempawah

Pondok Es Krim Resa Mempawah
Kami menawarkan tempat nongkrong lesehan yang Insyaallah nyaman dan santai. Mari berkunjung di pondok kami. Jalan Bahagia Komp. Ruko 8 Pintu, Mempawah.

Istri Kakanda Redi: SAYA INDONESIA SAYA PANCASILA

Istri Kakanda Redi: SAYA INDONESIA SAYA PANCASILA
Dinda Risti turut memperingati Hari Lahir Pancasila 01 Juni 2017

Anak Kakanda Redi: SAYA INDONESIA SAYA PANCASILA

Anak Kakanda Redi: SAYA INDONESIA SAYA PANCASILA
Rhein Reisyaristie turut memperingati Hari Lahir Pancasila 01 Juni 2017

Mas Redi dan De' Yun

Mas Redi dan De' Yun
Lagi jalan-jalan di Wisata Nusantara Mempawah