Jumat, 14 Juni 2013

[20] Yesi: Percakapan Pagi Ini




Semalam beberapa temen berlaku aneh. Dimulai dari Tetty yang udah ketakutan ketika ketemu gelap. Terus, di kamar, dia bilang ada aroma kamboja. Lalu Ajeng. Kalo Tetty mencium aroma kamboja, Ajeng justru malah sebaliknya. Dia bilang dia mencium bau yang sangat busuk. Bau yang menyengat seperti bau bangkai atau apalah namanya. Ini terjadi di tempat yang sama dan dalam waktu yang nyaris bersamaan. Aneh kan? Aku sendiri yang ada di sebelah mereka sama sekali gak mencium apa-apa selain pengap udara kamar. Ah… ada-ada aja.
            Lalu Ayu datang nakut-nakutin. Kusumpahin itu anak beneran dilihatin kuntilanak. Biar dia tau rasa gimana rasanya orang yang mati-matian nahan pipis karena takut.
            Leli lain lagi. Pas acara bakar jagung, dia bilang kalo disekitar kami ada sesuatu yang terus ngelihatin. Itu anak sepanjang acara terus-terusan celingukan kayak beneran nyari sesuatu yang menurutku memang gak ada. Tapi toh Leli tetep ngotot dengan apa yang dia rasakan. Aku baru yakin dia gak main-main ketika dia nyaris pingsan pas dikagetin sama Mas Handoyo yang pura-pura jadi pocong dan berdiri dibelakang Leli. Kupikir itu bukan lelucon yang pas di saat suasana gelap kayak semalam. Mas Handoyo sendiri malah cekakakan senang karena ngerasa ulahnya berhasil. Leli pura-pura merajuk. Tapi Ayu malah sebaliknya. Sepertinya dia merajuk beneran. Aku gak tau apa yang dia rajukkan, tapi kayaknya gak jauh-jauh dari perihal Mas Handoyo yang ngagetin Leli.
            Re malah memperparah keadaan dengan seolah-olah mendengar suara langkah yang katanya makin lama makin dekat. Aku dan temen-temen menajamkan pendengaran. Ajeng yang paling pertama bilang kalo dia juga mendengar. Lalu Ayu yang mulai ketakutan. Kemudian kami semua mulai menyadarinya, menyadari suara langkah itu maksudku, bukan menyadari Ayu yang mulai ketakutan tadi. Sebodo tuing sih kalo sola Ayu. Bete deh sama dia.
Makin lama suara langkah itu makin nyata. Jantungku mulai berdegup kencang. Jagung bakar yang aku pegang entah kapan jatuhnya, tau-tau udah di tanah.
Ajeng udah mau teriak ketika seseorang menyorotkan cahaya lampu senter ke arah kami. Huffffff… rupanya pakdhe yang datang. Beliau cuma memastikan kalo kami baik-baik saja. Sebenernya baik-baik saja kalo beliau gak datang dengan cara yang misterius kayak gitu. Aku mendengus kesal.
“Lagi pada bakar jagung rupanya.”
Gitu doang tuh komentar pakdhe. Setelahnya beliau basa-basi sebentar sama Mas Handoyo dan Re, terus pulang deh. Kami yang perempuan-perempuan ini cuma kebagian pesan agar berhati-hati dan tidak terlalu riuh saja.
Tapi gimanapun juga, yang semalam itu menyenangkan kok. Dan segala macam kesenangan semalam akan kami lanjutkan lagi hari ini. Rencananya target sasaran hari ini adalah sungai kecil di belakang vila. Mas Handoyo sama Re mau mancing katanya. Aku sih pilih maen air aja. Lebih menyenangkan.
“Ayolah kita berangkat. Nanti kalau keburu siang, panas loh.”
Kami bersorak menyambut kalimat Mas Handoyo barusan. Ajeng sama Tetty gak kelihatan. Aku mulai celingukan. “Ajeng sama Tetty mana?”
“Pulang. Ngambil bekal untuk makan siang di tepi sungai nanti. Kalo Mbak Ajeng sendiri kan kasian. Repot nanti.” Re ngasih penjelasan.
“Kok cuma untuk makan siang? Emang kita gak sarapan?”
“Lah, kan tadi udah. Jagung rebus sama ketela goreng itu kan sarapan juga.”
Ah, payah. Gak ada sesi makan nasi dong kalo gitu. Tapi sudah lah. Ketela tadi enak juga kok.
***
Sampai di tepi sungai, segalanya langsung terasa berubah. Apa yang tersaji disini sungguh luar biasa. Aku ingin teriak sambil main air. Aku ingin menyelam. Aku ingin berendam di sela-sela bebatuan yang menghampar. Aku ingin melepaskan penat. Aku ingin… “Woi… aku mau ke bawah ya, pengen ke tempat yang sedikit lebih dalam,” teriakku ke teman-teman. Re sedang memasang umpan. Mas Handoyo sedang menyiapkan senar untuk dipasangi mata kail. Leli sedang merendam kaki di jernihnya air yang bergemericik. Ayu sedang… ah, kayaknya lagi ngumpulin bebatuan sambil ngelirik-ngelirik Mas Handoyo. Alasan aja dia. Untuk apa juga batu-batu itu dikumpulin? Beuhhhh… kurang kerjaan banget.
“Jangan jauh-jauh ya?” teriak Mas Handoyo yang segera kujawab dengan acungan jempol.
Aku menyusuri sungai dengan perasaan bahagia. Air yang sangat dingin ini seolah berhasil mendinginkan otakku juga. Letihku hilang seketika. Tatapan mataku sungguh dimanjakan oleh pemandangan yang menyenangkan. Suara air yang bergemericik. Di beberapa sudut, air membusa sebab menghantam bebatuan yang bertebaran. Kicau burung kian menambah syahdu pagi ini. Oh, sungguh kebahagian yang tak dapat kutukar dengan apapun.
Aku kian terpesona oleh alam yang begitu cantik ini. Entah sudah berapa jauh teman-temanku kutinggalkan di belakang. Aku tak lagi mendengar suara mereka. Hanya gerak tubuh saja yang masih tampak. Re beberapa kali mengangkat joran pancing namun sepertinya tidak menghasilkan apa-apa. Aku tersenyum. Mas Handoyo sepertinya terbahak-bahak. Mata kailnya dimakan ikan yang cukup besar. Ayu bersorak sambil tepuk tangan segala.
“Hai,”
Aku mencelat dan nyaris terjerembab ke air. Seseorang menepuk pundakku dari belakang. Seorang perempuan. Kutaksir usianya sebayaku. Cantik. Kulitnya putih. Lesung pipinya begitu kentara acapkali dia tersenyum. Bajunya kebaya model noni jaman Belanda dulu, berkerah longgar dan diikat diujungnya. Aku pernah melihat baju seperti ini di film Si Pitung. Rambutnya yang panjang terurai dipermainkan angin pagi yang sesekali lewat. Bakul berisi beberapa potong pakaian terapit disela lengan kirinya.
Sejenak aku linglung, gak ngerti mesti ngapain. Aku cukup takjub juga. Gadis secantik dia rasanya terlalu aneh berada di dusun terpencil seperti ini. Maksudku, nggggg, gini deh. Kata Ajeng, orang-orang di sini setiap hari bekerja di ladang. Gak mungkin aja kerja di ladang sambil bawa payung. Nah, kalo tiap hari tersengat sinar matahari langsung, pasti hitam kan? Ini? Kulitnya kok bisa putih begini?
“Kenalkan,” gadis di hadapanku mengangsurkan tangan, “aku Wiranti. Panggil saja Ranti.”
“Aku Yesi Vinawuli Tabais. Ngggggg, panggil saja Tabais. Eh, bukan bukan, panggil saja aku Yesi.” Aku gugup. Sementara gadis di hadapanku malah tersenyum. Dia berjalan menepi. Aku membuntutinya.
“Sudah lama di dusun ini?” tanya Ranti seraya duduk di bebatuan yang teduh. Sebuah dahan besar condong ke sungai dan melindungi kami dari sengat sinar matahari.
“Ini adalah hari kedua kami. O iya, rumah kamu dimana?”
Ranti menunjuk semak yang tidak terlalu tinggi di seberang sana, “Lihat, disana ada jalan kecil. Rumahku tidak jauh dari sini. Aku lebih senang ke sungai ini lewat jalan itu ketimbang lewat vila. Lewat jalan itu lebih dekat.”
Aku mengangguk.
“Maaf jika aku terlalu lancang, aku ingin bertanya tentang sesuatu. Itu pun kalau kamu mau menjawabnya,”
Oh, tentu saja aku tidak keberatan, “Silahkan,”
“Apa semalam kalian diganggu oleh, nggggggg, oleh hantu perempuan? Baiklah, mungkin bukan hantu, tapi apalah namanya yang memang menjurus kesitu.”
Aku berpikir sejenak. Sepertinya semalam kami baik-baik saja. Tak ada apa-apa, kecuali ulah Ayu yang pura-pura jadi kuntilanak. Oh, ada. Aku baru ingat. Semalam Tetty sama Ajeng mencium bau-bauan yang berlainan. Tetty mencium kamboja, sementara Ajeng mencium bau bangkai.
Kuceritakan kejadian semalam ke Ranti. Dia mengangguk-anggukkan kepala. Kisahku yang seperti ngobrol sama Tetty di belakang vila kemaren juga kuceritakan. Ranti menautkan alisnya.
“Kamu percaya sama hantu?” tanyaku ke Ranti. Dia tak langsung menjawab. Bakul di pangkuannya dia pindahkan ke tepi.
“Entahlah. Aku tak pernah bertemu dengan hantu. Tapi aku sering mendengar cerita dari orang-orang dusun, bahwa setiap orang yang menginap di vila itu pasti dihantui.”
“Dan kamu percaya?”
Ranti menggeleng, “Aku bingung, karena itu aku diam saja. Aku tidak pernah mau ikut campur urusan yang aku sendiri tidak bisa memastikan kebenarannya. Aku merasa nyaman dengan keadaan begini.”
Aku memuji pribadi teman baruku ini. Sebuah pelajaran penting kudapat dari ucapannya barusan bahwa jika kita gak ngerti sesuatu yang sedang dibicarakan, lebih baik diam saja dan itu akan membuat kita merasa nyaman.
“YESSSSIIIIIIII…”
Kulihat di kejauhan, Re melambai-lambaikan sesuatu di tangannya. Piring dan sendok. Oh, bekal yang diambil sama Ajeng dan Tetty sudah datang rupanya.
“Mari ikut kesana, nanti kukenalin ke teman-teman. Mau kan?”
Tanpa aku duga, Ranti menggeleng, “Aku harus segera mencuci.” Katanya singkat. Aku tak bisa memaksanya.
“Baiklah. Aku kesana dulu ya. Lain kali kita ngobrol lagi.” Kami saling melempar senyum. Aku bangkit dan perlahan pergi meninggalkannya. Langkahku terasa berat sebab kali ini aku melawan arus air yang deras. Tapi aku menikmatinya.
Oh, aku bahkan belum mengatakan bahwa aku ingin berkunjung ke rumahnya. Mungkin nanti sore jika kami tak ada kerjaan. Ide yang bagus bukan?
Aku kaget begitu membalikkan badan. Ranti sudah tak ada di tempatnya duduk tadi. Kuedarkan pandanganku. Sejauh mataku memandang dan menyusuri sungai, tak kutemukan Ranti. Untuk sampai ke semak-semak di seberang sana tentu tidaklah mudah. Ranti harus melewati bagian yang agak dalam di tengah sungai itu. Lagi pula, semak-semak di seberang sana tak ada tanda-tanda bekas dilalui oleh apapun. Semuanya tampak tenang.
Perasaanku mulai gak enak. Kejadian kemaren melintas dengan cepat. Aku takut jika aku mengalaminya lagi.
“YESIIIIIIII, AYO KITA MAKAAAAAAAN…”
Aku mengacungkan jempolku. Kupercepat langkahku saat ini. Aku tak ingin memikirkan apa-apa lagi. Aku hanya ingin cepat sampai di tempat teman-temanku berkumpul. Itu saja. Tapi… tapi sepertinya ada sepasang mata yang mengawasiku di belakang. Bulu kudukku merinding. Keringatku mulai menetes. Jantungku berdetak kencang dan cepat.
Kuberanikan menoleh ke belakang. Dan, tak ada siapa-siapa.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kakanda Redi; Resa dilukis

Kakanda Redi; Resa dilukis
Anak Papito udah gede. Tambah cantik :-*

Kakanda Redi - Dinda Risti - Rhein Reisyaristie

Kakanda Redi - Dinda Risti - Rhein Reisyaristie
Pulang dari Pantai Kinjil, Ketapang

Kakanda Redi; Rhein Reisyaristie

Kakanda Redi; Rhein Reisyaristie
Ada kucing kesayangan Resa nih.

Kakanda Redi; Resa

Kakanda Redi; Resa
Resa di ruang kerja Mr. Obama

Pondok Es Krim RESA Mempawah

Pondok Es Krim RESA Mempawah
Di-launching tanggal 12 Juni 2017

Kakanda Redi: SAYA INDONESIA SAYA PANCASILA

Kakanda Redi: SAYA INDONESIA SAYA PANCASILA
Memperingati Hari Lahir Pancasila 01 Juni 2017

Pondok Es Krim Resa Mempawah

Pondok Es Krim Resa Mempawah
Kami menawarkan tempat nongkrong lesehan yang Insyaallah nyaman dan santai. Mari berkunjung di pondok kami. Jalan Bahagia Komp. Ruko 8 Pintu, Mempawah.

Istri Kakanda Redi: SAYA INDONESIA SAYA PANCASILA

Istri Kakanda Redi: SAYA INDONESIA SAYA PANCASILA
Dinda Risti turut memperingati Hari Lahir Pancasila 01 Juni 2017

Anak Kakanda Redi: SAYA INDONESIA SAYA PANCASILA

Anak Kakanda Redi: SAYA INDONESIA SAYA PANCASILA
Rhein Reisyaristie turut memperingati Hari Lahir Pancasila 01 Juni 2017

Mas Redi dan De' Yun

Mas Redi dan De' Yun
Lagi jalan-jalan di Wisata Nusantara Mempawah