Selasa, 01 Oktober 2013

Pulang ke Kotamu




Redia Yosianto

Sore yang tak begitu terang, di sebuah stasiun kereta. Sedikit berdebu. Gerah. Sepi.
Reni mengusap mata untuk kesekian kalinya. Batinnya ribut mengumpati air mata yang masih juga jatuh meski mati-matian ditahannya. Terasa juga kursi yang dia duduki cepat benar menjadi panas. Gerah. Lebih lagi hatinya. Seperti terbakar. Ada luka yang menganga disana. Di hati kecil itu. Berdarah. Perih. Luka dari sebuah penghianatan seseorang yang melebihi seorang kekasih. Dan ini tentu saja menyakitkan.
Senja merangkak pelan. Terserok-serok. Menyeret semburat jingga yang sebentar tadi masih menyala. Bercahaya. Benderang. Memenuhi sore dengan nuansa orange yang menawan. Sementara Alastua kian sepi saja. Tak banyak yang bergerak saat sore di stasiun tua ini. Pedagang asongan tinggal satu dua. Berteriak-teriak memecah keheningan sore di dalam kereta api yang tak begitu penuh.
Reni tak menghiraukannya. Pedagang asongan itu. Juga senja yang kian luntur. Luka di hatinya telah menyita pikiran. Mengalihkan perasaan. Menghunus amarah. Membunuh segala keindahan jingga. Setengah mati ia menyembunyikan gelisah. Juga air mata. Sementara kereta api ini tak juga bergerak. Panas udara di gerbong kelas rendah mulai menunjukkan kekuasaan. Jendela dibuka. Sobekan kardus yang bertebaran di kolong kursi serta merta menjadi kipas dadakan. Reni tetap saja bungkam meski tangannya sibuk mengipasi wajah. Tak terdengar lagi isaknya. Tapi sungguh, tak ada yang paham jika perasaannya menjerit sekuat tenaga. Melolong-lolong kesakitan sebab luka yang begitu parah menganga.
Seorang pemuda membuyarkan sunyi. Sekejap saja. Meski perlahan ia menyandarkan tubuh di kursi, toh Reni tetap kaget juga.
Reni menoleh. Wajahnya menggambarkan sebuah keterkejutan. Seketika. Pantas saja pemuda ini memilih untuk mengambil duduk di sebelahnya. Reni memang mengenalnya. Pemuda di sebelahnya ini. Cepat Reni mengalihkan tatap. Segera saja pemandangan di luar jendela menjadi fokus. Bukan, bukan menjadi fokus tatap sebenarnya. Reni hanya ingin mengusap matanya saja. Ia tak ingin terlihat menderita. Ia tak ingin ada orang yang tahu bahwa saat ini ia sedang patah hati.
Kereta tetap saja sepi. Tetap saja panas. Keduanya tak juga bercakap. Reni tak tahan. Ia ingin berbagi. Tapi rasanya tidak secepat dan seketika ini.
“Mau kemana?” Reni mulai memecah sepi. Hanya dua kata itu. Tanpa menoleh sedikitpun ke pemuda yang begitu tenang di sebelahnya. Suaranya masih bergetar. Isak masih tersisa sedikit.
“Malang.” sahut si pemuda singkat. Juga tanpa menoleh. Tas ransel kian erat melekat dalam pelukan si pemuda.
“Kau kan tidak punya keluarga di Malang.”
“Apa itu salah?” kali ini ditatapnya wajah gadis yang telah diobrak-abrik oleh sedih dan luka itu. Wajahnya yang sayu serta merta menjadi jingga sebab tertimpa sinar matahari sore yang menerobos bebas. Tetap cantik. Tetap menawan. Cahaya jingga dan wajah sayu itu.
Reni membuang tatap. Selain menderita, ternyata patah hati juga bisa membuatnya bodoh. Untuk pergi ke suatu tempat, orang tak harus memiliki keluarga di tempat yang akan dituju. Dan ini sama sekali tidak salah.
“Tapi sekarang bukan waktunya liburan.” Reni membela diri. Meski memang kedengarannya bodoh, ia ingin terlihat benar dan punya sikap.
Mata si pemuda meninggalkannya. “Apa itu harus?” beberapa pedagang asongan lewat. Bergantian. Ada yang mengangsurkan beberapa bungkus permen yang segera ditolak dengan satu gerakan halus.
Reni melengos kesal. Pemuda ini. Masih saja seperti dulu. Dingin. Tegas. Punya sikap. Keras kepala. Tak mudah dipatahkan. Tak bisa di debat.
Si pemuda membuka tas yang ada di pangkuannya. Dua bungkus roti isi cokelat dan sebotol air mineral segera berhamburan keluar. “Makanlah. Kau pasti lapar. Orang yang menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menangis pasti akan merasa lapar setelahnya.”
Reni kesal. Ia benci dengan keadaan ini. Rasanya sangat sia-sia usahanya menyembunyikan air mata dan berupaya mengeluarkan suara setegar mungkin jika toh bakal ketahuan juga. Tak ada pilihan lain. Disambutnya sebungkus roti yang ditawarkan si pemuda. Dimakannya dengan lahap. Perutnya memang sangat lapar.
Peluit kereta menjerit. Sejenak kemudian, kereta merangkak perlahan. Kemudian melaju kencang meninggalkan Alastua yang bungkam, yang sepi. Sementara semburat sore kian luntur. Alastua kian pekat. Hilang dari pandangan.
***

Reni menghimpun air mata. Matanya mengerjap beberapa kali. Dicobanya bertahan sekuat mungkin agar tangisnya tak meledak. Untuk sebentar tadi Reni berhasil.
Reni lekat menatap pemuda di depannya. Yudi, laki-laki yang telah merebut hati dan cintanya, terpaku. Duduknya gelisah. Sesekali ia berdiri kemudian duduk lagi. Telaga dimatanya yang dulu bening, tenang, menyenangkan, kini keruh dan penuh dusta. Penuh lumpur penghianatan.
“Aku harus menjelaskan semua ini. Kamu salah duga. Ngggg… maksudku, apa yang kamu lihat tidak seperti yang kamu kira. Itu cuma, ah… itu cuma salah paham saja.”
Pipi Reni mulai basah.
“Ren, dengarkan aku. Demi Tuhan, aku tak ingin pertunangan ini putus.” Yudi bangkit dari duduknya. “Oke, oke, aku mengaku salah. Aku minta maaf. Kuharap kamu sudi memaafkan aku.”
Reni mulai terisak.
Yudi senyap. Kehabisan kata.
“Kamu mencium perempuan lain.” Reni mulai melolong-lolong. Kepalanya tertunduk. Tangannya mengepal di atas meja. Selembar kertas tissue segera lumat kehilangan bentuk. Remuk. Tercabik-cabik. Hati Reni juga.
“Aku, nggg…”
“Kamu mencium perempuan lain!” Reni mempertegas kalimatnya barusan, “Di depan mataku.” Diangkatnya kepala yang beberapa jenak tadi tertunduk pasrah. Segera mata yang berlinang-linang itu menatap tajam ke manik mata Yudi, laki-laki yang telah menghianatinya.
Yudi tertunduk.
“Apa mencium perempuan dengan penuh perasaan itu sebuah salah paham?”
Yudi makin membenamkan kepalanya.
“Aku mohon, mulai saat ini jangan pernah punya niat untuk menikah denganku.” Reni melepas cincin yang melingkar di jari manisnya. Diletakkan cincin itu di atas meja dengan perlahan, dengan hari yang remuk redam. Dengan air mata yang berlinang. Dengan cinta yang sama sekali tak berbekas, menguap. Hilang.
Yudi masih menunduk. Tak berkutik.
Reni beringsut meninggalkan meja. Meninggalkan Yudi yang masih mematung. Meninggalkan cinta yang sudah sekian lama dia puja. Betapa hancur hatinya saat ini. Rasanya tak ada perempuan di belahan bumi manapun yang kuat menahan perasaan marah saat melihat kekasihnya mencium perempuan lain dengan lembut, dengan penuh perasaan, tanpa rasa bersalah sedikitpun. Tak ada. Dan sungguh, yang seperti ini bukan salah paham namanya. Ini goblok. Penghianatan. Dan laki-laki itu, kekasih itu, datang kembali lantas memohon maaf? Segampang itu? Tak tahukah ia betapa jantung terasa remuk? Tak tahukah ia betapa perih rasanya hati? Tersayat-sayat. Berdarah-darah. Air mata tak henti-hentinya tumpah.
Sampai di rumah, Reni mengemasi beberapa helai pakaian setelah sebelumnya mengobrak-abrik seluruh isi lemari sambil meraung-raung. Dimasukkannya beberapa kaus dan jeans ke dalam tas kecil. Berjejal-jejal. Menggumpal. Sesak.
Kereta senja yang berangkat ke Malang memang masih beberapa. Reni tak peduli itu. Yang ia ingin, secepatnya ia pergi dari sini dan kalau bisa, tak hendak rasanya ia kembali lagi kesini, ke kota yang telah menciptakan sebuah kenangan pahit di hatinya ini. Tak hendak. Selama-lamanya.
***
            Reni membuka mata lalu mengusapnya beberapa kali. Di luar jendela, hitam pekat malam yang kentara. Tak ada apa-apa. Angin yang menerobos lewat celah-celah jendela menciptakan hawa dingin yang sungguh sangat membantu ditengah hawa panas dan pengapnya kereta.
            Kereta berderak-derak. Melaju dengan sangat tenang. Menciptakan gemuruh suara yang ribut dan angkuh, membelah sepi malam.
Reni menoleh ke arah pemuda yang masih terjaga di sebelahnya. Kening Reni seketika berkerut.
            “Kamu sudah bangun atau memang tidak tidur?”
            Si pemuda menoleh. Matanya mengerjap. Berat. Meski samar, Reni tau kalau mata itu belum terpejam sama sekali. Warna merah menyemburat disana, di mata itu.
            “Kita sudah sampai daerah mana?”
            “Sekitar satu jam lagi kita sampai ke Malang.” Kemudian pemuda itu menguap panjang.
            Sepi. Tak ada yang berinisiatif membuka wacana baru.
            “An,” Reni mengalihkan tatap ke pemuda yang sangat tenang di sebelahnya itu, “kenapa tiba-tiba kamu ingin ke Malang?”
            Ditanya begitu, si pemuda malah tersenyum.
            “Kok malah senyum? Bukannya dijawab.”
            “Aku ingin menemani kamu.”
            Reni menautkan kedua alisnya, “Kok gitu jawabannya?”
            Si pemuda tersenyum lagi. “Aku tahu segala hal tentang Yudi. Semuanya. Termasuk tentang penghianatannya ke kamu. Dan puncaknya adalah kemarin. Aku juga tahu kalau kemarin kalian bertengkar. Kamu menangis. Kamu nekat pulang ke Malang dengan kondisi seperti ini. Yaaa, tentu saja aku khawatir.”
            Reni masih bingung.
“Aku tak pernah memaksakan apa-apa ke kamu.” Andra, si pemuda yang duduk di sebelah Reni itu menatap manik mata Reni lekat-lekat. “Aku juga tak pernah menawarkan apa-apa ke kamu. Cinta dan apapun itu.” Masih. Tatapan Andra masih menikam manik mata Reni. Gadis itu menunduk.
“Andai saja...”
“Ah, tak perlu lah kita berandai-andai.” Andra mengibaskan tangan sambil tersenyum. Dipenggalnya kalimat Reni sekenanya. “Kita sekarang tidak sedang berada di negeri para peri. Kita sekarang di dalam kereta yang panas. Pengap. Kita sekarang di dunia nyata.” Andra menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Senyata keadaanku sekarang ini.”
Reni menyandarkan punggungnya. “Maksudmu?” tanyanya kemudian. Suaranya serak.
“Apa yang bisa kutawarkan ke kamu kalau aku sendiri memang gak punya apa-apa? Menyedihkan memang. Tapi seperti itulah kenyataannya.” Andra menggenggam jemari Reni. “Aku suka sama kamu. Tapi aku tak pernah berani mengatakannya sebelum ini. Kamu tau mengapa?”
Reni menggeleng.
“Karena aku sudah kalah dengan Yudi. Kalah dalam segala hal. Bahkan aku merasa bahwa untuk sekedar bercerita tentang segala keburukan Yudi pun aku tak punya hak. Aku memang payah. Aku cuma bisa berdoa, semoga kamu cepat sadar sebelum semuanya terlambat. Itu saja. Dan ternyata Tuhan mengabulkan doaku. Maka disinilah kita sekarang, di kereta api yang pengap dan panas ini. ”
Reni mengangguk-anggukkan kepala. “Kamu memang keras kepala.”
“Toh itu tak juga membuat kamu menerima cintaku.”
Senyum Reni mengembang.
“Mau roti lagi?”
Reni menggeleng. “Sesampainya di Malang, kamu mau kemana?”
Kali ini Andra tertawa. “Tentu saja ke rumah kamu. Kan kamu sendiri yang bilang kalau aku gak punya keluarga di Malang.” Andra mengerling. “Tapi sepertinya sebentar lagi aku bakalan punya.”
Reni geleng-geleng kepala. Tapi toh ia tersenyum juga.
“Dan nanti kalau aku ke Malang lagi, aku bukan lagi liburan namanya, tapi pulang kampung. Gimana? Keren gak?”
Giliran Reni yang tergelak. Sungguh ia tak pernah menyangka kalau secepat ini Tuhan akan menunjukkan sebuah hikmah dari air mata yang tumpah nyaris seharian penuh, kemarin.


Maret 2012



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kakanda Redi; Resa dilukis

Kakanda Redi; Resa dilukis
Anak Papito udah gede. Tambah cantik :-*

Kakanda Redi - Dinda Risti - Rhein Reisyaristie

Kakanda Redi - Dinda Risti - Rhein Reisyaristie
Pulang dari Pantai Kinjil, Ketapang

Kakanda Redi; Rhein Reisyaristie

Kakanda Redi; Rhein Reisyaristie
Ada kucing kesayangan Resa nih.

Kakanda Redi; Resa

Kakanda Redi; Resa
Resa di ruang kerja Mr. Obama

Pondok Es Krim RESA Mempawah

Pondok Es Krim RESA Mempawah
Di-launching tanggal 12 Juni 2017

Kakanda Redi: SAYA INDONESIA SAYA PANCASILA

Kakanda Redi: SAYA INDONESIA SAYA PANCASILA
Memperingati Hari Lahir Pancasila 01 Juni 2017

Pondok Es Krim Resa Mempawah

Pondok Es Krim Resa Mempawah
Kami menawarkan tempat nongkrong lesehan yang Insyaallah nyaman dan santai. Mari berkunjung di pondok kami. Jalan Bahagia Komp. Ruko 8 Pintu, Mempawah.

Istri Kakanda Redi: SAYA INDONESIA SAYA PANCASILA

Istri Kakanda Redi: SAYA INDONESIA SAYA PANCASILA
Dinda Risti turut memperingati Hari Lahir Pancasila 01 Juni 2017

Anak Kakanda Redi: SAYA INDONESIA SAYA PANCASILA

Anak Kakanda Redi: SAYA INDONESIA SAYA PANCASILA
Rhein Reisyaristie turut memperingati Hari Lahir Pancasila 01 Juni 2017

Mas Redi dan De' Yun

Mas Redi dan De' Yun
Lagi jalan-jalan di Wisata Nusantara Mempawah