Sabtu, 27 Juli 2013

Kata mereka...



Kesedihan. Keputusasaan. Air mata. Tiga hal yang bisa mewakili keseluruhan isi buku ini. Mungkin itulah mengapa buku ini diberi judul ‘Hujan Bulan Juni’, meskipun ‘hujan’ tidak melulu membawa kesedihan atau mewakili keputusasaan dan air mata.
(Maylisa Santauli – Alumni Ganesha Operation, penikmat karya sastra modern)

Pak Redi menulis cerita pendek dengan sangat bagus. Ide-idenya cemerlang dengan ending yang tidak terduga. Seandainya saja ide-ide yang cemerlang tadi tampil dalam bentuk novel, tentu akan lebih hebat lagi dan saya yakin Pak Redi mampu mewujudkannya.
(Adhitya Pangestu – Siswa Kelas Akselerasi Ganesha Operation)

Membaca judulnya saja sudah membuat saya ingin segera ‘membongkar’ isinya. Redi memang jagoan dalam menciptakan rasa penasaran pembaca.
(Ffate’ – Penulis buku Edelweis Berkisah)

Redi. Saya memanggilnya dengan sebutan ‘Bung Redi’. Dia adalah guru Bahasa Indonesia. Buku ini sangat penting untuk beliau sendiri dan juga tentu saja untuk para siswanya. Setidaknya, dalam mengajarkan materi tentang cerita pendek, Bung Redi tidak sekedar memberikan teori belaka. Buku ini adalah contoh nyata dan buktinya.
(Ade Ariyanto – Guru Matematika di SMA Negeri 1 Sanggau Ledo)

Saya tidak terlalu paham tentang teori berkomentar. Ketika Mas Redi menyodorkan naskah cerpen-cerpennya, meminta saya membacanya, dan meminta saya untuk memberi tanggapan, saya gak bisa bilang banyak selain dua hal: BAGUS dan BAGUS BANGET.
(Danu Priyadi – Mahasiswa Poltekkes Pontianak Jurusan Keperawatan Gigi)

Beberapa judul cerpen di dalam buku ini sudah pernah saya baca sebelumnya di surat kabar. Sangat luar biasa jika pada akhirnya cerpen-cerpen ini tampil lagi dengan wujud yang lebih eksklusif: buku kumpulan cerpen. Selamat buat Redia Yosianto.
(Tri Sugiarti – Ibu rumah tangga, penikmat karya sastra)

Membaca cerpen-cerpen Pak Redi seperti menonton acara tv kesayangan. Terus pengen baca, baca, baca sampe habis. Belom puas kalo belom kelar. Bagus. Sangat bagus.
(Andini Shafira – Calon mahasiswi)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kakanda Redi; Resa dilukis

Kakanda Redi; Resa dilukis
Anak Papito udah gede. Tambah cantik :-*

Kakanda Redi - Dinda Risti - Rhein Reisyaristie

Kakanda Redi - Dinda Risti - Rhein Reisyaristie
Pulang dari Pantai Kinjil, Ketapang

Kakanda Redi; Rhein Reisyaristie

Kakanda Redi; Rhein Reisyaristie
Ada kucing kesayangan Resa nih.

Kakanda Redi; Resa

Kakanda Redi; Resa
Resa di ruang kerja Mr. Obama

Pondok Es Krim RESA Mempawah

Pondok Es Krim RESA Mempawah
Di-launching tanggal 12 Juni 2017

Kakanda Redi: SAYA INDONESIA SAYA PANCASILA

Kakanda Redi: SAYA INDONESIA SAYA PANCASILA
Memperingati Hari Lahir Pancasila 01 Juni 2017

Pondok Es Krim Resa Mempawah

Pondok Es Krim Resa Mempawah
Kami menawarkan tempat nongkrong lesehan yang Insyaallah nyaman dan santai. Mari berkunjung di pondok kami. Jalan Bahagia Komp. Ruko 8 Pintu, Mempawah.

Istri Kakanda Redi: SAYA INDONESIA SAYA PANCASILA

Istri Kakanda Redi: SAYA INDONESIA SAYA PANCASILA
Dinda Risti turut memperingati Hari Lahir Pancasila 01 Juni 2017

Anak Kakanda Redi: SAYA INDONESIA SAYA PANCASILA

Anak Kakanda Redi: SAYA INDONESIA SAYA PANCASILA
Rhein Reisyaristie turut memperingati Hari Lahir Pancasila 01 Juni 2017

Mas Redi dan De' Yun

Mas Redi dan De' Yun
Lagi jalan-jalan di Wisata Nusantara Mempawah