Sabtu, 06 April 2013

[7] Kadang-kadang malam memunculkan sebuah ketakutan, bahkan sebelum dia datang sekalipun…





            Warno, laki-laki diambang lima puluh tahun, adalah seorang laki-laki yang penuh dengan senyum. Pembawaannya tenang dan kalem. Tak pernah gegabah sedikitpun dalam bertindak dan membuat sebuah keputusan. Banyak warga yang senang kepadanya. Tua muda, besar kecil, semua membahasakan diri memanggilnya dengan sebutan ‘Pakdhe Warno’. Pakdhe Warno sendiri tidak pernah keberatan dengan sebutan itu. Baginya, sebutaan ‘pakdhe’ adalah anugerah yang sangat pantas dia terima. Usianya sudah tidak muda lagi dan dia sadar betul akan hal ini. Tidak mungkin dia memaksakan warga agar memanggilnya dengan sebutan ‘mas’ misalnya.
            Budhe Lasmi, istri dari Pakdhe Warno, juga seorang yang gampang memberikan senyum. Berbincang dengannya selalu saja memberikan rasa senang dan betah. Budhe Lasmi adalah tipikal ibu rumah tangga yang ideal. Lincah di masyarakat dan terampil jika di rumah. Pendek kata, sepasang suami istri ini adalah panutan bagi masyarakat di dusun yang jauh dari keramaian kota ini.
            Tidak seperti biasanya. Menjelang malam kali ini Pakdhe Warno duduk tepekur menghadap ke langit yang penuh dengan semburat warna senja. Matanya menerawang jauh. Agak lama dia terdiam seperti ini. Kopi dalam gelas di sebelahnya belum disentuh sama sekali. Juga sepiring singkong kukus dengan lelehan gula merah yang masih menyisakan kepul-kepul uap tanda belum lama diangkat dari dandang. Masih utuh. Masih belum disentuh sama sekali.
            “Ada apa to, Pak’e? Ibu perhatikan dari tadi kok Pak’e diam terus. Ndak biasanya Pak’e seperti ini. Kalau ada masalah mbok ya cerita sama Ibu. Siapa tau Ibu bisa bantu-bantu sedikit,”
            Pakdhe Warno belum menunjukkan reaksi apa-apa meskipun dia sadar bahwa istrinya sudah sejak tadi hadir di dekatnya. Tatapannya masih terbuang jauh, menjelajah langit yang sebentar lagi akan jadi gelap.
            “Apa Pak’e sedang memikirkan kedatangan Re dan teman-temannya itu?” Budhe Lasmi mencoba menerka-nerka. Tanpa dia duga, dilihatnya suaminya itu mengangguk.
            “Benar, Bu’e,” Pakdhe Warno menghela napas panjang lalu menghembuskannya pelan-pelan, “Besok mereka datang. Saya cuma khawatir mereka itu minta nginap di vila. Itu saja.”
            Budhe Lasmi tersenyum, “Kalau masalah itu Pak’e ndak usah khawatir. Vila itu kan dalam keadaan kotor. Perlu waktu untuk membersihkannya. Paling tidak tiga jam waktu yang diperlukan supaya vila itu bisa bersih dan siap untuk dipakai istirahat.”
            “Ah, Bu’e ini kayak ndak tau kelakuan si Re saja. Anak itu kalau sudah punya maksud, tetep nekat. Ndak perduli dia bakal ngepel lantai malam-malam, ya tetep bakal dia kerjakan. Lihat saja nanti kalau Bu’e ndak percaya.”
            Bu Lasmi tertunduk. Dia sadar apa yang dikatakan oleh suaminya barusan memang benar adanya. Re, keponakannya itu, memang luar biasa keras kepala. Paling susah dikasih tau. Kalau sudah maunya begini, bakalan dia kejar sampai dapet baru dia puas.
            “Ajeng sudah menyiapkan tiga kamar untuk tamu. Kita toh bisa maksa Re agar menginap saja di rumah. Kalau Re dan temen-temennya itu kepengen main-main ke vila, sebaiknya siang saja. Malamnya ya tidur di rumah. Bagaimana, Pak’e?”
            Pakdhe Warno menatap istrinya lekat-lekat, “Apa Bu’e yakin Re bakal mau?”
            “Ndak ada salahnya to, dicoba dulu?”
            Keduanya diam. Keduanya sama-sama memikirkan vila yang mereka miliki itu.
            Dulu, vila yang terletak di atas bukit itu sungguh menyenangkan. Tempatnya sangat strategis. Vila itu persis menghadap ke areal persawahan milik warga yang membentang luas. Jika musim tanam tiba, sejauh mata memandang, yang ada hanyalah hamparan hijau yang membentang. Sungguh menyegarkan mata. Namun, jika musim panen tiba, hamparan hijau menyegarkan tadi akan berubah menjadi padang dengan nuansa keemasan. Semilir angin yang berhembus dan keheningan yang tercipta akan ditingkahi oleh suara-suara riuh yang ditimbulkan dari kaleng-kaleng berisi batu kerikil, yang digantung sepanjang sawah. Kaleng-kaleng ini dikendalikan oleh seseorang yang sedang menunggui sawahnya dari serangan burung-burung pemakan bulir padi. Setiap ada sekawanan burung yang hinggap, seketika itu juga kaleng-kaleng ini riuh memecah sepi. Ah, sungguh suasana yang menentramkan hati dan pikiran.
            Di belakang vila, agak menurun sedikit, terdapat anak sungai yang airnya jernih dan berarus sedikit deras. Bebatuan yang bertaburan memudahkan warga yang singgah untuk mencuci, membasuh tubuh, atau mungkin sekedar merendam kaki saja. Anak sungai ini tak pernah sekalipun mengalami kekeringan. Selalu begitu sepanjang hari, bertahun-tahun. Gemericiknya adalah obat yang paling ampuh untuk mengobati lelahnya warga sebab bekerja seharian di sawah dan ladang masing-masing.
            Vila ini sering disewa oleh para peneliti yang datang. Kebanyakan dari mereka berasal dari kota. Biasanya mereka melakukan penelitian tentang varietas padi yang ditanam oleh warga. Ada juga yang meneliti tentang hama. Tidak jarang diantara mereka datang untuk memberikan penyuluhan kepada warga. Semua dari mereka itu lebih senang menyewa vila ketimbang menginap di rumah warga yang sebenarnya gratis. Tentu saja hal ini terjadi karena kenyamanan yang disuguhkan oleh alam tadi.
            Pakdhe Warno sendiri sampai mempekerjakan seorang remaja putus sekolah untuk membersihkan vila. Remaja itu bernama Asmawi. Pakdhe Warno mempekerjakan Asmawi karena menurutnya Asmawi adalah seorang remaja yang baik dan penuh tanggung jawab jika dilimpahi pekerjaan. Menurut Pakdhe, sangat kasihan jika anak sebaik dia harus disia-siakan oleh keadaan. Kemiskinanlah yang membuat dia harus meninggalkan bangku sekolah.
Asmawi inilah yang senantiasa membersihkan kamar-kamar yang ada di vila setiap vila tersebut hendak disewa. Vila tersebut memiliki empat kamar tidur, sebuah ruang tamu yang cukup luas, sebuah dapur yang langsung bisa digunakan sebagai ruang makan, dan dua buah kamar mandi. Setiap ada tamu yang akan menginap di vila ini, Asmawi dengan tekun membersihkan setiap sudutnya. Sebuah penghargaan tersendiri baginya jika tamu yang menyewa vila merasa nyaman dan betah sebab kebersihan vila selalu terjaga dengan baik. Asmawi pula lah yang bertugas menjadi pemandu jalan jika ada para peneliti yang ingin jalan-jalan melihat pemandangan sekitar. Biasanya para peneliti dan sebagian besar pengunjung yang menginap minta diantar ke anak sungai yang ada di belakang vila. Untuk jasa ini, Asmawi sering mendapat upah dari para pengunjung.
            Namun, sesuatu hal yang aneh telah terjadi.
Dua tahun yang lalu, Sumi, anak Mbok Warsini, salah seorang warga dusun, dikabarkan hilang di sekitar vila. Saksi mata yang melihat Sumi terakhir kali adalah Asmawi. Menurut Asmawi yang ketika itu sedang membersihkan rumput yang tumbuh liar di sekitar vila, Sumi tampak berjalan menyusuri jalan setapak menuju anak sungai di belakang vila. Sumi membawa bakul cucian yang berisi kain-kain kotor. Sepertinya Sumi akan mencuci pakaian, kata Asmawi ketika itu.
Namun sejak itu Sumi tak pernah kembali lagi. Sumi lenyap. Hilang tanpa jejak. Warga yang turut serta mencari hanya menemukan beberapa helai pakaian Sumi yang belum sempat dicuci. Kejadian aneh ini jelas saja membuat warga resah. Dusun yang mereka diami selama puluhan tahun ini tak pernah sekalipun mengalami kejadian-kejadian aneh seperti ini.
Warga yang penasaran terus saja mengejar Asmawi dengan berbagai pertanyaan. Menghadapi kenyataan bahwa dirinya adalah target dari warga yang sedang mengorek informasi, seketika membuat Asmawi seperti linglung. Lambat laun tingkahnya berubah. Setiap ditanya soal Sumi, jawaban Asmawi kadang-kadang hanya membentak-bentak, berteriak-teriak, malah sesekali menangis tersedu-sedu.
Benar, tak lama setelah hilangnya Sumi di belakang vila, Asmawi pun manjadi gila. Banyak yang menduga gilanya Asmawi ini karena kerasukan arwah Sumi yang dipercaya sudah meninggal. Namun tidak sedikit juga yang menyangkal. Perdebatan pun terjadi tanpa bisa dicegah. Hilangnya Sumi dan gilanya Asmawi hingga kini masih jadi bahan pergunjingan warga.
Rupanya kasus ini tidak berhenti hanya sampai disini saja. Konon kabarnya, beberapa pengunjung vila yang menginap sering kali diganggu dengan kejadian-kejadian aneh. Ada yang mengaku kalau dirinya dicolek-colek ketika tidur. Ada yang mengatakan tiba-tiba saja gorden jendela bergerak seperti dihembus oleh angin, padahal pengunjung tersebut yakin benar ketika itu jendela dalam keadaan tertutup rapat tanpa menyisakan celah sedikitpun. Ada juga yang mengaku mendengar rintihan yang sangat menyayat hati dan tentu saja mengerikan. Bahkan ada yang bilang kalau mereka pernah melihat penampakan seorang perempuan yang tertunduk dengan rambut terurai acak-acakan.
Hal ini tentu saja membuat popularitas vila semakin melorot. Tak pernah ada lagi pengunjung yang menyewa vila. Para peneliti yang datang kini lebih senang menginap di rumah warga ketimbang harus bertemu dengan hal-hal yang menyeramkan.
Vila yang nyaman itu kini mendapat julukan baru. Vila angker!
“Pak’e,”
Pakdhe Warno tersentak manakala pundaknya disentuh oleh istrinya. Lamunannya tentang kejadian setahun yang lewat seketika lenyap begitu saja.
“Sudah gelap. Sebaiknya kita masuk saja. Ndak baik saat-saat seperti ini kita berada di luar rumah seperti ini.”
Keduanya bangkit dari duduk. Pakdhe Warno membawa gelas kopinya, sementara Budhe Lasmi menenteng piring berisi singkong kukus.
“Besok kalau Re dan teman-temannya datang, tugas Bu’e lah, bagaimana caranya supaya mereka tidak minta menginap di vila. Saya cuma tidak ingin membuat kunjungan mereka jadi berantakan. Saya takut kalau cerita-cerita para pengunjung dulu itu benar adanya.”
Budhe lasmi mengangguk, “Akan Ibu bujuk sebisa Ibu. Pak’e tenang saja.”
Tampak Pakdhe Warno tersenyum. Senyum yang dipaksakan. Di luar, malam kian menjelma. Kadang-kadang kalau malam seperti ini, ada rasa ketakutan yang muncul dengan tiba-tiba. Ketakutan luar biasa, bahkan ketika sebelum malam itu datang sekalipun, ketakutan sudah lebih dulu mengetuk pintu, sudah lebih dulu datang bertamu.

***

[6] Yesi: Sesuatu yang menjadi batu sandungan itu bernama ‘Tamu dari Jakarta’




            Aku lagi sendirian di rumah. Pikiranku beneran kacau. Gak tau kenapa kok kayaknya aku gak rela kalo besok temen-temenku bakal pergi jauh ninggalin aku sendirian. Aduuuuuh, aku sendirian? Sesuatu yang gak pernah aku bayangin sebelumnya. Dan sekali lagi, tentu saja ini sangat me-nye-bal-kan, titik.
Hp-ku bergetar. Nah, panjang umur nih bocah. Ngapain juga dia nelpon? Mau pamer kalo besok mereka mau berangkat liburan dan nyanyi-nyanyi sepanjang jalan di mobilnya? Dasar!  “Hallo,” aduuuuuh, males banget deh aku ngangkat telpon dari nih anak. Beuhhh!
            “Hallo, lagi dimana?”
            “Ya di rumah lah. Emang mau kemana?” plis deh, mau berburu barang-barang buat dibawa besok? Tolong lah yaaaa, aku kan gak ikut liburaaaaaan. So, ngapain juga aku mesti sibuk-sibuk hunting? Buang-buang energi saja!
            “Oke lah, lima belas menit lagi kami nyampe ke rumahmu.”
            “Kami?” aku bingung. Jangan-jangan mereka abis ngumpul-ngumpul lagi. Mereka belanja ke Hypermart sama-sama, cekikikan sama-sama, hunting barang-barang sama-sama, beli ini beli itu untuk bekal besok, dan mereka gak ngajak aku? Waaaah, beneran ngajak ribut nih temen-temen, “Rame-rame gitu?”
            “Ya iya lah rame-rame. Gimana sih?”
“Nggg…” aku diam sejenak, “ya udah deh. Aku tunggu. Bawain aku pizza hut ya. Yang ada taburan sosis dan ikan tuna. Ingat, ikan tuna, bukan ikan sapu-sapu. Juga keju dan saus mayonaise.”
“Yaaaaah, berarti gak lima belas menit dong…”
“Gak apa-apa. Aku tunggu.”
“Oke lah.”
Hahahaaaa. Lumayan kan bisa makan pizza hut gratis?
Eh, tapi kok tumben bener ya si Re segampang itu mengiyakan pesenanku? Pizza hut lagi. Biasanya boro-boro pizza hut, dititipin kripik singkong rasa balado aja kadang-kadang tuh anak pake acara lupa segala.
Atau… nggggg… apakah ini sebagai salah satu cara permohonan maaf mereka karena gak menyertakan aku liburan? Ah, aku gak ikut liburan kan bukan salah mereka. Ini salah mama. Salah MAMA! Aaaaaaaaarrrrggghhhhh, kepalaku possssseeeeeeeng!!!
Bete. Gak ngerti mau ngapain lagi. Kulirik komik Shinchan yang udah menggunung di meja. Disebelahnya malah ada Doraemon dan Naruto dari jilid awal sampe jilid yang terbaru. Udah aku baca tuh semuanya. Sudah ngulang seratus dua puluh delapan kali malah. Udah tamat. Tamat, sodara-sodara. Sama kayak nasibku yang udah tamat. Gak ikut liburan dan bengong sendirian kayak gini adalah musibah yang lebih menyedihkan ketimbang kondisi korban akibat kekejaman Israel.
Suara mesin mobil menderu memasuki pelataran rumah. Meskipun yang lagi nyetir Re, tapi aku tau persis kalo Honda Jazz merah marun itu adalah mobilnya Leli. Dan, oh… mereka berempat, sodara-sodara. Berarti bener dong kalo mereka abis jalan-jalan bareng, belanja, makan, dan ketawa-ketiwi tralala-trilili bareng. Ya Tuhan, kalo udah gini, apakah pizza hut di tangan Re itu masih membangkitkan selera? Betapa menyedihkannya aku ini. Udah masuk dalam wilayah penjajahan mama, eeeh, di luar kekuasaan mama pun masih juga dibiarkan sendirian oleh temen seperjuangan.
“Nih, pesenanmu,” Re mengangsurkan bungkusan plastik dengan gambar dan tulisan yang udah gak asing lagi, “pizza hut bertabur ikan tuna, sosis, keju, dan saus mayonaise. Malah aku kasih bonus biar kamu tambah sehat. Tadi aku bilang ke mbak pelayannya supaya ditambahin dengan irisan terong dan taburan kecambah.”
Aku menerimanya dengan rasa sedikit canggung. Kupandangi wajah Re. Dia tersenyum. Ah, itu pasti tipu muslihat. Itu pasti topeng. Itu pasti kamuflase. Lagian pizza hut pake kecambah? Kenapa gak pake irisan jengkol aja sekalian?
“Kok malah bengong?”
Tetty menepuk pipiku. Aduuuuuh, ini anak. Ngagetin aja.
“Kami gak diajak masuk nih?”
Yang barusan itu Leli yang ngomong.
Ah, susahnya bersikap wajar seperti biasanya, “Kalian ini kenapa sih? Tumben banget mau masuk aja pake minta diajak segala. Biasanya begitu turun dari mobil, kalian langsung lari ke kamarku tanpa permisi dulu, bahkan ke mama.” Aduh… aduh… barusan aku terkesan nyolot gak sih?
“Hei, kok marah-marah sih, Neng? Lagi ketiban bulan ya?” Tetty mendorong tubuhku. Begitu pintu udah lapang, mereka nyelonong masuk dan menghempaskan tubuh ke sofa sekencang-kencangnya. Dasar temen-temen yang gak bisa membaca sikon. Nggggg, gak punya tata krama tepatnya. Aku yakin waktu belajar PMP di SD dulu pasti ulangan hariannya nyontek semua.
“Buseeeeet, banyak Doraemon nih,” Re mencomot komik di meja, dibukanya langsung ke halaman tengah.
“Pinjem dong, buat baca-baca di mobil besok.”
Hah? Apa? Apa aku gak salah denger nih? Ayu mau pinjem komik aku buat baca-baca di mobil besok? Helloooooooo… Emangnya besok dia mau kemana? Mau liburan? Oh Tuhaaaaan, ambillah hamba sekarang juga. Hamba sudah pasrah, ya Tuhan.
“Iya, Ayu, ide bagus tuh. Komik Korea ada gak, Yes? Pinjem dong.”
Aaaarrrggghhhhh, Leli Leli Leliiiii. Demi Tuhan, kamu ngeselin banget hari ini!!!
“Kalian abis dari mana?” oh, bodohnya aku. Udah jelas-jelas mereka abis dari belanja. Pake nanya lagi. Basa-basi yang sangat basi.
“Dari rumah lah. Emang dari mana?”
“Kok dari rumah bisa bareng-bareng gitu? Semobil lagi.” Tatapanku lurus ke mata Tetty.
“Eh, ngggg… gini Yesi…”
Tuh kan, dia salah tingkah. Aku yakin nih, kalo aku bongkar bagasi mobil sekarang, pasti deh banyak barang-barang yang akan mereka bawa besok. Hiks… membayangkannya saja udah bikin dadaku sesak. Aku gak sanggup membayangkan andai aja aku beneran membongkar bagasi mobil dan menemukan Potato beraneka rasa dan minuman bersoda yang asli seger banget kalo diteguk pas gerah-gerahnya di dalam mobil. Miris rasanya. Pedih. Okelah, aku gak akan melakukan hal bodoh itu. Membongkar bagasi mobil itu maksudku.
“Gini, kami emang dari rumah dan emang mau kesini. Nah, biar enak, kami ngumpul dulu di rumah Ayu. Baru deh berangkat bareng-bareng ke sini.”
Ah, Re emang gitu orangnya. Selaluuuuu aja ngebelain Tetty.
“Yesi, aku pinjem Doraemon jilid lima sampe tiga belas ya. Shinchan pinjem juga ya, jilid tiga puluh sampe empat puluh dua.”
Aku mengangguk, “Bawa aja,” sahutku lemes. Tepatnya: MALES! Ayu kelihatan banget matanya berbinar penuh dengan rasa suka cita yang mendalam. Lagian minjem kok segitu banyaknya. Itu sih mau ngerampok. Kenapa gak dia bawa aja semuanya sekalian?
“Mama kamu mana, Yes?”
Eh? Ngapain juga mereka ini nanyain mamaku? Mau pamitan? “Lagi arisan di rumah Ibu Broto. Paling bentar lagi juga pulang.”
Sepi sebentar.
“Yes, sori banget nih ya sebelumnya,”
Aku membenarkan letak duduk. Nah, Re udah mulai memainkan intro nih. Kayaknya lagu dengan tema pembunuhan berencana dan kisah yang bakal memporakporandakan hati dan perasaanku bakal segera dimulai. Cara Re ngomong aja udah lain gini, penuh dengan kehati-hatian. Seperti orang yang takut salah ngomong. Eh bukan… bukan, seperti orang yang takut menyinggung perasaan orang lain. Dan orang lain itu adalaaaaaahhhh: AKU!!!
“Kita kesini tuh punya tujuan. Kita pengen ngobrol sama…”
“Sama aku? Mau pamitan, gitu?” potongku cepat. Re tampak kian gak enak hati. Hahahaaa, tau rasa dia. Gitu tuh rasanya menghadapi orang yang depresi gara-gara gak bisa ikut liburan gratis.
 “Duuuuh, kok jadi sensitif gitu sih, Neng. Biasa aja kali.”
Ah, si Leli ini, sempet-sempetnya nyuruh aku bersikap biasa? Coba kalo dia yang ada di posisi aku? Pasti dia bakalan melakukan percobaan bunuh diri deh.
“Eh, ada tamu rupanya,”
Itu suara mamaku. Mamaku datang sambil bawa bungkusan. Pasti kue sisa arisan. Kalo yang ngadain arisan Bu Broto sih, kuenya gak jauh-jauh dari brownies atau rainbow cake gitu lah.
Temen-temenku pada berdiri dan satu persatu nyalamin mamaku. Eh, si Re apa-apaan sih? Pake cium tangan segala lagi. Aku curiga nih. Pasti ada sesuatu yang gak beres.
“Pas banget, Tante. Kita datang kesini memang kepengen ngobrol sama Tante kok.” kata Re, sopan banget.
“O ya?”
Mamaku memasang wajah kaget. Ah, itu pasti pura-pura.
“Iya, Tante. Itu pun kalau Tante gak sibuk.”
“Oh, iya boleh. Tante gak sibuk kok. Kerjaan rumah tinggal nyuci baju saja. Itu sih biasanya Yesi yang ngerjain.”
What??? Yesi yang ngerjain? Mama gak salah nyebut tuh? Di belakang ada dua bak penuh baju kotor. Itu jadi tanggung jawabku? Ooooh, berarti mama ngelarang aku untuk ikut liburan cuma buat gantiin tugasnya si Popi, pembokat yang lagi cuti melahirkan? Aku jadi pembokat dong? Wah wah waaaah, ini sih udah kebangetan namanya.
“Jadi gini Tante,” Re mengatur letak duduknya terlebih dahulu, “Tante pasti sudah tau dong kalau kita ini akan pergi liburan. Yesi pasti sudah cerita. Nah, seperti yang sudah-sudah, kita ini selalu liburan bareng. Selalu berlima. Kemanapun itu. Cuma yang kami dengar dari Yesi, liburan kali ini dia gak bisa ikut. Nggg… gini, kalau Tante gak keberatan, kami datang kesini ini untuk meminta ijin Tante. Ya, gimana lah caranya supaya Yesi bisa ikut.”
Aku terharu. Ah, ternyata Re berniat baik. Gak kok, bukan cuma Re. Ayu, Leli, Tetty juga. Mereka kesini mau memintakan ijin supaya aku bisa ikut liburan? Oh, bener-bener soulmates mereka ini. Semoga aja mama berubah pikiran. Semoga aja mama bisa secepatnya sadar dan mengakui bahwa apa yang dia lakukan beberapa hari ini adalah sebuah kesalahan yang fatal. Kalo mama benar memberi ijin, aku rasa waktu untuk hunting barang-barang masih cukup kok. Gak cukup sore, malam pun akan aku manfaatkan demi menyiapkan perlengkapan liburan.
Sepertinya ada harapan. Kulihat mata mama sedikit meredup. Mama tertunduk lesu. Oke, mungkin mama mulai menyadari kalau dia telah melakukan kesalahan yang fatal tadi. Hahahaaaaa, tinggal nunggu waktu yang pas buat mama untuk mengatakan ‘iya, Yesi boleh pergi kok.’ Aiiiih, senangnya.
Membayangkan yang barusan, aku jadi senyum-senyum sendiri.
“Tante akan memberi ijin kepada Yesi untuk ikut pergi berlibur,”
JLEGARRRRR!!!
Demi Tuhan, aku beneran gak salah denger kok. Yang barusan membuat statement tuh emang bener mama. Asli, memang mama yang ngomong barusan. Aaaaah, aku pengen loncat dari kursi!
Kulihat mata Re juga berbinar penuh harap. Tetty tersenyum. Leli menegakkan duduknya. Ayu sibuk membolak-balik halaman komik. Aaaarrrrghhh… lama-lama aku banting juga tuh anak!
“Tapi tidak untuk liburan kali ini!”
BLUBBBB!!!
Mendadak dunia terasa begitu gelap. Tuhan, apa Engkau sudah mencabut nyawaku? Tuhan, apakah aku tidak salah dengar? Apakah benar yang ngomong barusan itu mamaku? Oh, aku benar-benar pengen loncat dari kursi. Loncat terus jatoh dan mati! Hiks… aku pengen nangis.
“Ngggg, maaf loh, Tante. Saya gak bermaksud mencampuri urusan Tante terkait gak dibolehkannya Yesi ikut dengan kami besok. Cuma, andai kami boleh tau alasan Tante melarang Yesi ikut liburan, kami akan senang dan mencoba memahaminya sebagai sebuah keputusan yang tepat dari Tante.”
Entahlah gimana reaksi mama sekarang. Aku udah terlanjur males. Bete.
“Baiklah, jika kalian ingin tau alasan Saya melarang Yesi ikut liburan, Saya akan ceritakan.”
Ah, mama sok formal deh. Biar kata mama ngomongnya udah kayak presiden sekalipun, toh intinya tetep aja aku gak bisa ikut.
“Jika tidak ada  halangan, beberapa hari lagi akan ada tamu dari Jakarta. Tamu ini adalah tamu yang istimewa buat kami. Tamu yang akan datang nanti adalah teman Tante semasa Tante TK dulu.”
Aku nyaris tersedak. Teman sewaktu TK? Yang benar saja! Aku aja udah lupa temen-temen TK-ku dulu siapa-siapa aja. Malah aku udah lupa aku dulu TK dimana. Malahan lagi, aku lupa-lupa ingat, apa aku dulu beneran pernah sekolah TK apa enggak. Dan, tamu dari Jakarta? So what? Apa hubungannya denganku? Siapa juga yang peduli andai tamu itu datang dari Afrika Selatan sekalipun?
“Temen tante ini akan membawa serta anaknya. Anaknya itu laki-laki. Namanya Benny. Konon dia pengen banget kenal sama Yesi. Makanya liburan kali ini Tante benar-benar melarang Yesi pergi kemana-mana. Tante tidak ingin mengecewakan teman tante itu. Terlebih mengecewakan anaknya.”
“Oh, jadi maksud Tante, ngggggg… Yesi itu mauuuuu di… nggggg…”
Stop Re, STOP!!! Jangan pernah bilang kalo aku ini mau dijodohin. Plis!!!
“Yang punya kepentingan itu kan Mama sama temen Mama. Kok jadi bawa-bawa Yesi gini sih, Ma?” aku nyaris berteriak. Suaraku udah goyang, udah bergetar. Mungkin jika aku ngomong tiga kalimat lagi, aku beneran akan nangis.
“Yesi, apa salahnya sih menjalin silaturahmi dengan sahabat lama?”
Kutatap mata mama lekat-lekat, “Ma, plisss, yang sahabatan itu kan Mama, bukan Yesi sama anak temen Mama itu.” oke, tinggal dua kalimat lagi.
“Apa salahnya sih kamu menuruti keinginan Mama? Sekaliiiiii saja.”
“Gak salah, Ma, kalo itu terjadi diluar waktu liburan kayak gini. Tapi akan salah besar kalo sampe Mama merenggut kesenanganku.” nah, sudah dua kalimat. Air mataku bener-bener netes. Aku mulai libung. Aku mulai sesenggukan. Entah kapan waktunya Ayu merangkulku. Aku bener-bener gak sadar. Yang aku tau, kini aku udah nyaman nangis di bahu Ayu.
Sepi. Tak ada yang berbicara lagi setelah kalimatku yang terakhir.
Aku masih sesenggukan.
“Maaf Tante,” kudengar Tetty membuka percakapan lagi, “apakah Tante masih pada pendirian Tante? Maksud saya, apakah Yesi tetap tidak boleh pergi?”
Kuintip mama dari sudut mataku. Kulihat perempuan yang begitu aku cintai itu mengangguk. Oh, hancur sudah harapanku. Liburan kali ini bener-bener kelabu. Aku akan menghabiskannya dengan orang asing. Menyedihkan memang.
“Baiklah kalau begitu. Kami sudah tau sekarang alasan Tante melarang Yesi ikut dengan kami besok. Setidaknya, kami tidak akan menduga-duga lagi.” Tetty menepuk lengan Re, memberi isyarat untuk bangkit dari duduk, “Kalau begitu kami mohon pamit, Tante. Maaf sudah membuat Tante merasa tidak nyaman.”
Kulihat satu persatu temenku menyalami mama. Re masih juga mencium tangan mama. Malah kini Ayu, Leli, juga Tetty ikut-ikutan. Sebelum mereka meninggalkanku sendirian, kurasakan Leli menepuk pundakku perlahan.
“Udah, gak usah nangis lagi. Aku yakin maksud mamamu baik kok.”
Aku diam. Sungguh, aku tak memahami kalimat Leli barusan. Baik? Dari sudut pandang siapa? Mama? Oh, kalo dilihat dari sudut pandang mama, tentu aja baik, sangat baik malah.
Sesaat kemudian, Honda Jazz merah marun itu menderu dan perlahan meninggalkan pelataran rumah. Aku semakin kesepian. Aku bener-bener pengen mati.
Hp-ku bergetar. SMS dari Re masuk.

Percayalah, Tuhan punya rencana lain buat kamu.
Sabar aja ya.

Aku menghembuskan napas kuat-kuat. Sesak di dada masih tersisa.
***

[5] Rapat rahasia, misi canggih, dan target operasi





            Di Rumah Ayu, pukul 13.05 WIB, sehari menjelang keberangkatan.
            Re melepaskan jaket Real Madrid kebanggaannya dan meletakkannya di sofa. “Sori, aku telat,” sapanya basa-basi. Diedarkannya pandangan menyapu seisi ruangan. Semua temennya sudah hadir duluan, kecuali Yesi tentunya. Karena ini adalah rapat rahasia dan yang akan dibahas adalah soal Yesi, jadi alangkah lebih baik kalo tuh anak gak usah ada dulu di sini ketimbang nanti malah bikin suasana jadi gak enak kayak cerita Tetty kemaren.
            “Jadi kita akan membahas apa nih?” Leli membuka pertemuan dengan pertanyaan.
            “Ceritain dulu dong soal pertemuan kalian kemaren di rumah Yesi itu. Dia ada ngasih alasan gak? Setidaknya kode-kode atau sinyal-sinyal apa gitu, yang bisa kita gunakan untuk menarik sebuah kesimpulan.”
            “Nggak ada,” sahut Ayu cepat, “Yesi sendiri aja gak tau kenapa mamanya itu ngelarang dia untuk ikut liburan kali ini. Padahal kamu tau sendiri kan biasanya gimana? Gak ada masalah setiap liburan. Gak tau deh untuk liburan kali ini.” Imbuhnya lagi.
            “Oke,” kata Re akhirnya. Ada nada pesimis dan pasrah disana, “Kita gak tau alasan yang sebenarnya yang disembunyikan oleh mamanya Yesi. Berarti kalopun kita harus menyelidik, yang kita selidiki bukan Yesi, tapi mamanya. Nah, kita punya misi nih. Misi canggih.”
            Semuanya ngangguk-ngangguk. Entah ngerti entah enggak.
            “Misi canggih? Maksudnya?” Tetty yang nanya.
            “Jadi gini,” Re berdehem dua kali, “kita harus bicara sama mamanya Yesi, dari hati ke hati. Bukan sekedar bicara aja. Kalo bisa kita selipkan bujukan-bujukan dan rayuan-rayuan asmara agar beliau kasih ijin ke Yesi. Kita kasi jaminan bahwa liburan kali ini menyenangkan dan aman terkendali tentunya. Gimana?”
            Ayu ngangguk-ngangguk.
            Leli ngangguk-ngangguk.
            Tetty geleng-geleng kepala. “Sepertinya bakal berat,” ujarnya sedikit pesimis, “Aku lumayan kenal dengan mamanya Yesi. Beliau emang suka becanda. Tapi kalo sekali bilang enggak, kayaknya bakalan beneran enggak deh.” Tambahnya lagi.
            “Contohnya?” tanya Leli.
            “Contohnya, ngggg…” Tetty kelihatan berpikir keras, “o iya, kayak kemaren aja itu, yang Yesi mau nonton konsernya Kangen Band, mamanya gak kasi ijin. Padahal konsernya itu gak jauh, cuma sekitar dua ratusan meter aja dari rumahnya.”
            “Waktu itu mamanya ada kasi alasan?” kali ini Ayu yang nanya.
            “Tadinya sih gak mau bilang. Tapi setelah konsernya selesai baru mamanya kasi alasan yang sebenarnya.”
            “Trus, alasannya apa dong?” kejar Ayu lagi.
            “Mamanya gak suka dengan rambut Andhika Kangen Band yang kata mamanya kayak kain gorden jendela  di kantor kecamatan.”
            Beberapa jenak kemudian meledaklah tawa semuanya. Ayu sampe guling-guling di lantai. Leli sibuk menekan-nekan perutnya yang ngilu. Re sibuk menendang-nendang Ayu yang masih guling-guling di lantai dan sesekali nimpukin Leli dengan komik Korea koleksi Ayu. Cuma Tetty yang senyum-senyum aja.
            Leli yang paling dulu sadar dan berhenti ketawa, “Oke, udah… udah… serius lagi.” Katanya.
            “Jangan-jangan, ada yang gak disukai sama mamanya Yesi terkait lokasi liburan kita?”
            “Bisa jadi,” Leli memberi dukungan terhadap dugaan Re barusan. “Aku pikir juga gitu. Tapi apa? Masa iya sih mamanya Yesi gak suka sama lokasinya? Sanggau Ledo kan gak jauh-jauh amat.”
            Semuanya mikir. Bermacam-macam dugaan muncul di kepala mereka.
            Ayu mengira-ngira, mungkin mamanya Yesi pengen ngajak Yesi liburan sekeluarga. Sehingga Yesi gak dikasi ijin untuk ikut liburan sama temen-temen kali ini.
            Leli mengetuk-ngetukkan kunci mobil ke meja. Beberapa dugaan muncul di kepalanya. Namun hanya beberapa saja yang dia anggap masuk akal, seperti misalnya Yesi diminta menemani mamanya yang bakal sendirian di rumah. Denger-denger sih, papanya Yesi akan pergi ke Jakarta dan adik-adiknya Yesi pada ngikut. Nah, kalo Yesi ikut liburan juga, berarti mamanya sendirian beneran dong. Iya, pasti itu alasannya, batin Leli mantap.
            Tetty menyandarkan tubuh ke pinggiran sofa. Ada beberapa ‘jangan-jangan’ yang muncul di kepalanya terkait sebab mengapa mamanya Yesi ngelarang Yesi ikut liburan. Jangan-jangan Yesi mau di kawinin. Jangan-jangan mamanya Yesi mau ngajak Yesi pergi ke suatu tempat yang gak kalah seru sama Sanggau Ledo. Jangan-jangan Yesi disuruh ikut kursus menjahit. Atau jangan-jangan mamanya Yesi gak suka sama Pakdhe-nya Re. Jangan-jangan Pakdhe-nya Re punya kumis yang mirip pagar di kantor kabupaten. Aaaahhh… pusing.
            “Kita ke rumah Yesi aja sekarang. Kita bujuk mamanya Yesi agar beliau mau kasih ijin. Kalaupun gagal, setidaknya beliau mau ngasih alasan kenapa Yesi gak boleh ikut liburan.” kata Re memecah keheningan yang baru saja tercipta.
            “Tapi…”
            “Udah, gak usah pesimis dulu,” Re menatap Tetty dengan tatapan meyakinkan, “Kita kan gak bakalan tau kalo kita belum nyoba.”
            Ayu menjentikkan jari, “Setuju. Ayo deh, berangkat sekarang. Makin cepat makin bagus.”
            “Aduuuuuuh,”
            “Ck,” Leli memandang Tetty yang kayaknya masih aja berat dan gak siap melaksanakan misi canggih ini. Padahal target operasi udah ditentukan, “kenapa lagi sih? Lama-lama aku tabok juga nih anak.”
            “Ya Tuhaaaaan, ini hampir jam dua siang. Panas bangeeeet. Aku gak sanggup naek motor. Nanti kulitku gosong lagi. Pake mobilnya Leli aja deh ya, pliiisssss…”
            Leli mendelik kesal, “Kamu kan kemaren udah beli sunblock buat bekal ke Sanggau Ledo. Di pake dong.”
            “Apa? Buat bekal ke Sanggau Ledo? Bujubuneng! Ngapain juga ke Sanggau Ledo bekal sunblock? Mendingan aku bekal panah atau bumerang. Lumayan kan buat senjata berburu.”
            Leli menautkan alis, “Jadi, sunblock kemaren buat siapa dong?”
            Tetty mesem-mesem gak jelas, “Itu buat ompung aku lah. Ompung aku tuh mau liburan ke Hawaii. Nah, beliau minta beliin sunblock deh. Aje gile, kayak di Hawaii gak ada aja barang yang namanya sunblock itu.”
            Leli hampir aja menyela lagi ketika Re mulai berbicara dengan seseorang lewat Hp.
            “Hallo, dimana? Oke lah, lima belas menit lagi kami nyampe ke rumahmu. Ya iya lah rame-rame. Gimana sih? Yaaaaah, berarti gak lima belas menit dong… Oke lah.”
            “Yesi?” tanya Tetty.
            Re mengangguk. “Yuk, jalan. Yesi udah nunggu di rumahnya.”

***


Kakanda Redi; Resa dilukis

Kakanda Redi; Resa dilukis
Anak Papito udah gede. Tambah cantik :-*

Kakanda Redi - Dinda Risti - Rhein Reisyaristie

Kakanda Redi - Dinda Risti - Rhein Reisyaristie
Pulang dari Pantai Kinjil, Ketapang

Kakanda Redi; Rhein Reisyaristie

Kakanda Redi; Rhein Reisyaristie
Ada kucing kesayangan Resa nih.

Kakanda Redi; Resa

Kakanda Redi; Resa
Resa di ruang kerja Mr. Obama

Pondok Es Krim RESA Mempawah

Pondok Es Krim RESA Mempawah
Di-launching tanggal 12 Juni 2017

Kakanda Redi: SAYA INDONESIA SAYA PANCASILA

Kakanda Redi: SAYA INDONESIA SAYA PANCASILA
Memperingati Hari Lahir Pancasila 01 Juni 2017

Pondok Es Krim Resa Mempawah

Pondok Es Krim Resa Mempawah
Kami menawarkan tempat nongkrong lesehan yang Insyaallah nyaman dan santai. Mari berkunjung di pondok kami. Jalan Bahagia Komp. Ruko 8 Pintu, Mempawah.

Istri Kakanda Redi: SAYA INDONESIA SAYA PANCASILA

Istri Kakanda Redi: SAYA INDONESIA SAYA PANCASILA
Dinda Risti turut memperingati Hari Lahir Pancasila 01 Juni 2017

Anak Kakanda Redi: SAYA INDONESIA SAYA PANCASILA

Anak Kakanda Redi: SAYA INDONESIA SAYA PANCASILA
Rhein Reisyaristie turut memperingati Hari Lahir Pancasila 01 Juni 2017

Mas Redi dan De' Yun

Mas Redi dan De' Yun
Lagi jalan-jalan di Wisata Nusantara Mempawah